Pedoman Perkuliahan Akuntansi Manajemen


Manfaat Mata Kuliah
Informasi akuntansi yang demikian banyak itu tidak akan berarti jika tidak dipakai
untuk keputusan manajemen. Oleh sebab itu akuntansi harus menyediakan informasi
penting untuk bahan keputusan manajemen dan disajikan untuk para pembuat
keputusan. Disinilah diperlukan akuntansi manajemen. MK ini memberikan pengertian
dan pemahaman tentang fungsi akuntansi dalam manajemen, sehingga mahasiswa
akan memahami fungsi anggaran perusahaan dan mampu menyusunnya.
Serta mampu menganalisis laporan keuangan secara tepat untuk pengambilan keputusan.

Deskripsi Perkuliahan

Akuntansi Manajemen merupakan sistem informasi yang menghasilkan output untuk memenuhi kebutuhan manajemen. Proses untuk menghasilkan output tersebut tidak dibatasi oleh aturan-aturan yang mengikat seperti halnya akuntansi keuangan. Input yang digunakan dapat berupa kuantitatif maupun kualitatif. Informasi yang dihasilkan oleh akuntansi manajemen merupakan alat untuk mengambil keputusan bagi manajemen. Keputusan ini dimulai sejak perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian dari suatu produk, siklus manajemen, maupun divisi dan perusahaan. Pengambilan keputusan bagi manajemen dapat dilakukan untuk berbagai hal. 

Melihat selengkapnya Pedoman Perkuliahan  Akuntansi dan Manajemen :


Bayi Gemuk: Rawan Penyakit Jantung dan Diabetes

Apa dampak bagi anak dan balita yang kegemukan? Masalah dampak kegemukan bagi anak dan balita ini terus mendapat perhatian dari para peneiti. Bahaya kegemukan berlebih pada anak-anak terus dikaji. Dalam riset terbaru terungkap obesitas di usia dini akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes di kemudian hari, khususnya pada anak perempuan.
Balita Gemuk : Tidak berarti sehat
Penyakit Jantung dan Diabetes Ancam Bayi Gemuk.  
Semua orang tua ingin mempunyai anak yang gemuk.  Anak dan  balita yang gemuk pertanda asupan nutrisinya mencukupi. Bila nutrisi tercukupi harapannya  adalah anak menjadi sehat dan terhindar dari berbagai penyakit. Namun bagaimana bila  anak dan balita kita kegemukan atau obesitas?  Apa dampak bagi anak dan balita yang kegemukan? Masalah dampak kegemukan bagi anak dan balita ini terus mendapat perhatian dari para peneiti. Bahaya kegemukan berlebih pada anak-anak terus dikaji. Dalam riset terbaru terungkap obesitas di usia dini akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes di kemudian hari, khususnya pada anak perempuan.

Dalam risetnya, peneliti melibatkan lebih dari 1.000 relawan asal Australia berusia 17 tahun, yang diikuti sejak lahir. Tujuannya adalah untuk menguji apakah berat lahir dan distribusi lemak tubuh pada anak usia dini dikaitkan dengan faktor risiko kesehatan masa depan seperti obesitas, resistensi insulin dan tekanan darah tinggi.

Temuan menunjukkan, bayi perempuan yang obesitas cenderung memiliki lingkar pinggang lebih besar, tinggi kadar insulin dan trigliserida (sejenis lemak yang ditemukan dalam darah), dan kadar kolesterol baik "HDL" yang rendah.

Yang menarik, berat lahir dan distribusi lemak tubuh pada anak usia dini tampaknya tidak terlalu berpengaruh pada pria.

"Apa yang terjadi pada bayi saat di dalam kandungan dapat mempengaruhi penyakit jantung dan risiko diabetes ketika anak tumbuh dewasa," kata pemimpin riset, Dr Rae-Chi Huang dari University of Western Australia, Perth, dalam sebuah rilis berita.

"Kami menemukan bahwa bayi perempuan sangat rentan terhadap risiko ini. Perempuan yang berisiko tinggi obesitas dan diabetes pada usia 17 tahun adalah mereka yang sudah mengalami obesitas sejak usia 12 bulan," kata Huang.

Huang mengatakan temuan ini penting karena ada peningkatan angka obesitas dan diabetes gestasional pada wanita hamil di negara-negara Barat. Hal ini berarti akan ada kenaikan jumlah bayi perempuan yang lahir dengan obesitas.

"Temuan kami dapat menjadi pesan bagi masyarakat khususnya untuk para ibu hamil agar melakukan langkah-langkah pencegahan obesitas pada anak mereka sejak tahap awal (masa kehamilan) dan mengetahui konsekuensinya," kata Huang.

Meskipun penelitian menunjukkan adanya hubungan antara obesitas pada usia dini dan peningkatan risiko diabetes dan penyakit jantung, tetapi hal ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.

Artikel terkait:
Anak gemuk tidak berarti sehat 
Diet untuk anak : Apakah perlu?
Sumber: kompas.com









Mengatasi Mata Lelah Akibat Sering Di Depan Monitor

Mata lelah akibat monitor
Apakah mata anda lelah akbat  terlalu lama di depan monitor komputer, laptop, Ipad  atau handphone.  Mata lelah  bisa disebabkan oleh sinar radiasi layar monitor. Akhir-akhir ini banyak dari kita yang memiliki kebiasaan untuk bekerja berlama-lama di depan monitor PC, entah untuk bekerja atau melakukan hal lain seperti bermain game dan browsing. Alhasil efek mata lelah dan kepala pening pun tak dapat dihindari. Walau banyak yang menganggap fakta ini tidak sepenuhnya benar, namun kenyataannya hal ini tetap mempengaruhi kesehatan mata kita. Efeknya terkadang kita sedikit kesulitan untuk memfokuskan objek pandang, rasa pening dan sebagainya. Hal ini tentunya diakibatkan pancaran radiasi monitor yang terlalu lama saat kita bekerja.

Berikut ini adalah beberapa tips mengatasi mata lelah akibat terlalu lama di depan monitor:

1. Jaga jarak pandang dari monitor.

Seharusnya kita menjaga jarak pandang ke monitor kita dengan baik. Berada terlalu dekat dengan monitor memang sedikit membahayakan bagi mata kita. . Jarak yang disarankan adalah sekitar 20-40 inchi (50-100cm) dari mata.

Jika kita masih kesulitan membaca padahal monitor sudah berada pada jarak 20 inchi, cobalah untuk memperbesar font kita hingga kita merasa nyaman. Kalau untuk keperluan kantor mintalah pengajuan penggantian monitor LCD, karena mata sangat berharga dan belum masuk asuransi.

2. Singkirkan CRT, Beralih ke LCD

Sinar radiasi yang dihasilkan Monitor tabung (CRT) lebih kuat daripada LCD dan ini juga berdampak pada kesehatan mata kita. Monitor tabung (CRT) memang memberi efek yang lebih buruk dibanding LCD, selain energi yang dibutuhkan juga lebih besar. Cobalah mengganti monitor CRT kita dengan LCD.

Namun harga monitor LCD memang lebih mahal dibanding CRT. Kalau keuangan kita belum cukup menggantinya atau pihak kantor tempat kita bekerja  belum merealisasikan pengajuan, ada baiknya kita membeli filter anti-radiasi. ini adalah solusi untuk mengurangi rasa nyeri mata akibat duduk berlama-lama di depan monitor, namun dengan harga yang murah.

3. Atur monitor setting

Aturlah tingkat kecerahan dan  ketajaman monitor anda dan sesuaikan dengan kebutuhan. Beberapa monitor yang ada sekarang banyak menyediakan pre-set display mode, untuk memudahkan pengguna mengganti setting layar mereka. Pre-set setting tersebut memberi level brightnes yang berbeda, untuk menyesuaikan kondisi penggunaan monitor. Adakalanya manfaatkan hal tersebut.

Misal settingan seperti, ‘text’ atau ‘internet’ akan terasa lebih sejuk di mata, saat kita gunakan untuk mengetik ataupun browsing. Setingan ‘game’ atau ‘movie’ akan terlihat lebih terang saat digunakan.

4. Mengistirahatkan mata sejenak, secara berkala

Ini adalah cara yang paling mudah, murah dan aman. Cara termudah menghindari mata lelah akibat radiasi monitor adalah mengistirahatkannya secara berkala. Cobalah untuk mengistirahatkan mata sekitar 5 menit tiap jamnya. Kita dapat menggunakan waktu 5 menit tersebut untuk berjalan-jalan, melihat pemandangan, atau mambasuhnya dengan air.

5. Gunakan kacamata anti radiasi

Walau hal ini membutuhkan biaya yang relatif lebih mahal, namun ada baiknya saat memiliki cukup uang kita membeli kacamata anti-radiasi. Selain bisa dibawa kemanapun kita bekerja, kacamata ini tak hanya berguna saat kita bekerja di depan monitor, namuna juga melindungi mata dari cahaya lampu mobil, radiasi TV, dan sebagainya.

Faktanya lapisan anti-radiasi pada kacamata tersebut, sangat berguna bagi mata kita. Karena lapisan tersebut secara otomatis mengurangi efek nyeri di mata akibat radiasi cahaya berlebih. Ada baiknya  sisihkan sebagian dari uang gaji atau LP untuk membeli kacamata anti radiasi.


Semoga bermanfaat …

Anak Gemuk Tidak Identik Anak Sehat

Anak gemuk = sehat?
Umumnya orang tua senang bila mempunyai anak yang gemuk. Karena anak yang gemuk mencerminkan asupan gizi yang cukup.Disamping itu anak yang gemuk akan terlihat lucu dan menggemaskan. Namun apakah anak yang gemuk identik dengan anak yang sehat? Persepsi masyarakat selama ini bahwa anak gemuk berarti sehat harus diubah, karena ketika tumbuh menjadi dewasa anak yang obesitas (kegemukan) itu berpeluang besar mengidap berbagai penyakit berbahaya.

Menurut dr Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) dari Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bahwa Paradigma tentang sehat selama ini selalu dikaitkan dengan anak yang gemuk, padahal kegemukan adalah wujud dari malnutrisi (pemberian nutrisi yang salah), bukan hanya kurang gizi seperti dipahami kebanyakan orang.

Ia menyatakan hal itu ketika memberikan paparan tentang pencegahan malnutrisi dan penyakit tidak menular pada anak Indonesia di Jakarta, Selasa (29/5/2012).

Damayanti mengatakan, persepsi itu disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang tua tentang kebutuhan nutrisi anak pada saat kehamilan maupun pertumbuhan mereka di usia emas, sejak lahir hingga dua sampai tiga tahun. "Banyak orang tua yang berasal dari kalangan ekonomi mampu, tetapi tidak tahu makanan apa yang dibutuhkan anaknya sehingga asupan gizi dan nutrisi anak tidak sesuai," katanya.

Menurut dia, hal itu terbangun sejak masyarakat Indonesia yang tadinya bermata pencaharian dengan basis agraris, dengan kebutuhan pangan yang sudah tersedia dari hasil tani, kemudian beralih karena industrialisasi yang kemudian mengganggu pola makan.

"Dengan perpindahan masyarakat dari desa ke kota, banyak yang tidak memasak makanan sendiri karena waktunya habis untuk bekerja, mereka kemudian membeli makanan cepat saji yang kaya kalori namum miskin asupan nutrisi dan zat lain yang diperlukan tubuh untuk tetap sehat," katanya.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan, tercatat 17,9 persen kasus malnutrisi yang terjadi pada anak usia di bawah lima tahun, dengan tingkat obesitas pada kelompok anak yang sama sebesar 14 persen.

"Angka (obesitas) tersebut bisa lebih parah di perkotaan seperti Jakarta, yang bisa mencapai 20-30 persen karena pola konsumsi makanan yang tidak sehat," tegasnya.

"Makanan cepat saji merupakan makanan yang tinggi kalori, tetapi rendah kandungan nutrisi yang diperlukan tubuh seperti zat besi, vitamin A dan zinc," katanya.

Secara umum, obesistas disebabkan oleh konsumsi kalori yang berlebihan, sehingga tubuh mengalami penimbunan lemak yang tentunya menghambat produktivitas seseorang. Obesitas sendiri terbukti dapat meningkatkan risiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti diabetes, tekanan darah tinggi, stroke, serangan jantung, gagal jantung, beberapa jenis kanker, batu kandung empedu dan batu kandung kemih, serta sejumlah gangguan lainnya.

Untuk mencegah obesitas tersebut, Damayanti menyarankan agar orang tua mencari tahu pengetahuan tentang kebutuhan nutrisi dan gizi yang tepat bagi anak mereka. "Ada sekitar 70 persen orang tua yang berasal dari kalangan ekonomi mampu tetapi tidak paham tentang makanan yang tepat bagi anaknya sehingga perlu mendapat pendidikan tentang nutrisi dan gizi tersebut bahkan sebelum ibunya memasuki masa kehamilan," katanya.
Artikel terkait:
Anak Gemuk Tidak Identik Anak Sehat
Perlukah diet untuk anak?


Sumber: Kompas.com