Desain Dapur Mungil Minimalis Sederhana - Sebuah rumah jika tidak ada ruangan untuk
memasak dan mengolah makanan yang biasa kita sebut sebagai dapur, pastinya
tidak akan memenuhi standar rumah sehat dan ramah lingkungan. Selain tidak
dapat memenuhi standar, ketiadaan dapur di rumah tentu akan menjadi
problematika tersendiri bagi pemilik rumah.
Wanita Yang Dirindukan Surga
Wanita yang Dirindukan Surga – Wanita merupakan
makhluk ciptaan Allah SWT yang mulia. Ada banyak keistimewaan yang diberikan
Allah para kaum hawa ini. Akan tetapi di balik banyaknya keistimewaan tersebut,
ternyata ada banyak pula aturan Islam terkait seorang wanita. Wanita merupakan sosok indah dengan segala
keistimewaan yang ada pada dirinya. Seorang wanita bila dilihat dari segi
manapun, selalu memancarkan pesona yang mampu memukau mata. Sehingga tidak
mengherankan bila wanita disebut sebagai godaan terbesar bagi kaum pria.
Bahkan banyak hadist yang menyebutkan
bahwa wanita adalah penghuni neraka yang paling banyak. Penyebab mereka menjadi
penghuni neraka pun beragam, mulai dari karena dosa yang diperbuatnya ataupun
perbuatannya yang menyebabkan orang lain berdosa.
Akan tetapi, sebenarnya wanita itu tidak
selalu identik dengan penghuni neraka. Sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah,
bahwa di akhirat kelak kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita. Oleh
sebab itulah, surga sangat merindukan wanita. Namun, wanita yang dirindu surga
bukanlah orang sembarangan. Hanya mereka yang memenuhi kriteria-kriteria
tertentu lah yang didambakan untuk menempati surga. Lantas, kriteria
bagaimanakah wanita yang dirindu surga tersebut?
Karena ada juga karakter Wanita yang dirindukan surga. Karakter
seperti apakah yang dimaksud? Berikut ini informasi selengkapnya.
Memperteguh Iman
Kriteria wanita yang dirindu surga
yang pertama adalah ia yang memperteguh imannya. Iman berasal dari hati.
Sehingga jika hati kita yakin, maka sikap dan perilaku akan mengikuti kata
hati. Hati yang memiliki iman akan senantiasa mengamalkan sifat terpuji yaitu
selalu takut kepada Allah, hati yang selalu merindukan belai cinta Allah. Oleh
sebab itu, wanita yang dirindu surga adalah ia yang memperbanyak dzikirnya,
membaca Al-Qur’an, bertutur kata yang terpuji, menjauhi ghibah dan naminah.
Bertakwa kepada Allah SWT
Kriteria yang kedua adalah wanita yang
bertakwa kepada Allah SWT. Seorang wanita yang bertakwa kepada Allah adalah ia
yang mudah memaafkan, memiliki toleransi yang tinggi, menghindari dosa besar
dan beristighfar bila melakukan dosa kecil, serta memuliakan syiar Allah dan
terkahir berlaku adil dalam memutuskan perkara.
Menjaga Shalat Lima Waktu
Karakter utama wanita yang dirindukan surga adalah mereka yang menjaga shalat lima
waktunya. Seperti yang diketahui bahw shalat merupakan rukun Islam yang kedua.
Shalat juga menjadi ibadah pembeda antara orang mukmin dan orang kafir.
Shalat merupaka amalan pertama yang akan dihisab saat di akhirat kelak. Jika
baik shalatnya maka baik pula amalan lainnya dan sebaliknya. Rasulullah SAW
bersabda:
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat
lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya
(dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita
tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR.
Ahmad; shahih)
Berbakti kepada kedua orang tua
Berbakti kepada kedua orang tua
hukumnya wajib dan fardhu ‘ain, dan harus didahulukan daripada amalan-amalan
lain yang sifatnya fardhu kifayah dan sunnah. Selain itu, berbakti kepada orang
tua merupakan kewajiban yang paling utama setelah shalat yang merupakan tiang
agama.
Berpuasa di Bulan Ramadhan
Sesuai dengan hadist di atas, karakter
Wanita yang dirindukan surga lainnya adalah mereka yang senantiasa berpuasa di
bulan Ramadhan. Rukun Islam ketiga ini wajib dilaksanakan oleh setiap kaum muslim.
Muslimah yang sudah baligh tentu saja juga diwajibkan untuk berpuasa. Kecuali
mereka yang berhalangan untuk puasa seperti karena haid. Namun diwajibkan atas
mereka untuk mengganti puasa tersebut di bulan lainnya.
Menjauhi Zina
Sebenarnya, jalan menuju surga bagi
kaum wanita itu sangat terbuka lebar. Selain dengan melakukan amalan seperti
shalat lima waktu, puasa Ramadhan ternyata ada amalan lain yang harus dilakukan
oleh seorang wanita agar dirindukan oleh surga, yakni dengan menjauhi zina.
Zina merupakan dosa besar yang yang
keji dan dibenci oleh Allah SWT. Islam bukan hanya melarang perbuatan zina,
bahkan mendekatinya pun tidak diperbolehkan. Oleh sebab itu, wanita yang bisa
menjaga dirinya untuk menjauhi zina akan dirindukan kehadirannya di surga
kelak.
Taat kepada Suami dalam hal
kebaikan
Di dalam Islam, suami merupakan sosok
pemimpin bagi istri dan keluarganya. Perintah yang ia berikan wajib ditaati
selama itu tidak melanggar syariat agama. Ternyata wanita yang taat kepada
suaminya ini termasuk dalam karakter wanita yang dirindukan surga.
Hushain bin Muhshin ra berkata:
Seseorang telah menceritakan kepadaku, "Aku pernah datang menemui
rasulullah saw untuk sebuah kebutuhan, Rasulullah SAW berkata,' Ada apa ini,
apakah engkau punya suami?' Aku menjawab, 'Ya', Rasulullah SAW kembali
bertanya,' Bagaimana ketaatanmu padanya? 'Aku menjawab. 'Aku tidak pernah
meremehkan ketaatan dan pengabdian kepadanya, kecuali jika aku tidak mampu.
'Rasulullah SAW menjawab, 'Lihatlah dirimu, sejauh mana kedudukanmu di mata suamimu,
dia adalah surga dan neraka bagimu.'
Penuh Kasih Sayang
Karakter Wanita yang dirindukan surga
selanjutnya adalah ia yang penuh dengan kasih sayang. Pada dasarnya seorang
wanita itu harus memiliki kasih sayang yang berlimpah untuk suami dan
anak-anaknya.
Dengan kasih sayangnya tersebut, ia
bisa menjadi sosok yang menguatkan suami agar selalu berbakti kepada Allah SWT.
Selain itu, dengan kasih sayangnya ia juga akan membesarkan anak-anaknya untuk
menjadi generasi masa depan penerus agama Islam.
Wanita yang senantiasa sabar ketika
mendapatkan musibah atau ujian
Sesungguhnya tidak ada kehidupan di
dunia ini tanpa berbagai macam ujian dan musibah. Oleh sebab itu, kriteria
wanita yang dirindu surga bukanlah wanita yang hanya melaksanakan puasa dan
shalat saja. Namun adalah wanita yang bersabar ketika ditimpa ujian dan
musibah.
Melahirkan Keturunan (anak yang
sholeh-sholehah)
Wanita yang dirindukan surga
selanjutnya adalah mereka yang melahirkan keturuan. Rasulullah SAW membanggakan
umatnya yang berjumlah banyak dibandingkan nabi-nbi sebelumnya. Tenyata,
seorang wanita yang bisa melahirkan keturunan dan mendidik anak-anaknya
tersebut menjadi generasi yang shaleh akan mendapatkan balasan dengan kedudukan
yang istimewa.
“Istri-istri kalian yang termasuk ahli
surga adalah: yang penuh kasih sayang, yang melahirkan keturunan, yang kembali
(bersandar) kepada suami; jika suaminya marah, ia datang kepadanya dan
meletakkan tangannya di atas tangan suaminya sembari mengatakan, ‘Aku tidak
akan tidur sampai engkau meridhaiku.’” (HR. An Nasa’i dan Thabrani)
Selalu Berupaya Mencari
Keridhaan Suami
Karakter wanita terakhir yang
dirindukan oleh surga adalah istri yang selalu berupaya mencari keridhaan
suami. Wanita yang memiliki karakter seperti ini tidak ingin membuat suaminya
marah. Berdasarkan hadist di poin 6, wanita seperti ini akan membujuk suaminya jika
marah hingga kemarahannya reda. Bahkan ia tidak akan tidur hingga suaminya
tersebut ridha kepadanya.
Menutup aib dan pandai menjaga
lisan
Wanita yang dirindukan surga adalah ia
yang dapat menutup aib dirinya serta aib orang lain, serta mampu menjaga
lisannya dari perkataan yang tidak baik dan fitnah. Sudah seharusnya muslimah
yang baik lebih menahan dirinya dari banyak berbicara bila tidak penting dan
tidak ada manfaatnya.
Menyambung dan mempererat tali
silahturrahim
Kriteria yang terakhir adalah wanita
yang menyambung dan mempererat tali silahturrahim. Merupakan kewajiban bagi
setiap muslim untuk menyambung tali silahturrahim, serta haram untuk
memutuskannya. Sebagaimana sabda Rasulullah bahwa tidak akan masuk surga orang
yang memutuskan hubungan kekeluargaan.
Demikianlah kriteria wanita yang
dirindukan surga. Memang bukanlah wanita sembarangan, oleh sebab itu marilah
kita berbenah diri sehingga termasuk kedalam golongan wanita surga tersebut.
Sungguh merupakan kebahagian terbesar bila dapat menjadi wanita yang dirindukan
surga. Dan semoga kita tetap istiqomah di jalan-Nya. Amin ya rabbal alamin.
Mendidik Anak Cara Rasulullah SAW
Mendidik Anak Cara Rasulullah Saw. Sebagai Muslim adalah kewajiban kita untuk
mengikuti petunjuk Nabi di setiap segi kehidupan kita. Terlebih tentang tata
cara mendidik anak. Ikuti pesan Rasullullah tentang cara mendidik anak.
Rasullullah SAW bersabda: “Bukalah
lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Lailaha-illaallah”. Dan
saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “Lailaha-illallah”.
Sesungguhnya barangsiapa awal dan
akhir pembicaraannya “Lailah-illallah”, kemudian ia hidup selama seribu tahun,
maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya.” (sya’bul Iman, j Iuz 6, hal.
398 dari Ibn abbas). Jadi dalam mendidik anak cara Rasulullah saw yang pertama adalah tentang
pengenalan tauhid.
Berdasarkan Hadist Nabi di atas,
maka,dalam kitab Al Amali hal.475, Imam Al Baqir dan Imam ash Shadiq
raadiyallahu ‘anhuma berkata, tahapan untuk mengenalkan Allah kepada anak
adalah:
1. Pada usia 3 tahun, ajarkan
kepadanya kalimah Tauhid, “Laila ha illallah” sebanyak tujuh kali.
2. Pada usia 3 tahun 7 bulan, ajarkan
kepadanya kalimah “Muhammad Rasullullah.”
Mendidik anak tentang Salat
Masih dalam kitab yang sama, Imam al
Baqir dan Imam ash Shadiq ra menerangkan bagaimana seharusnya kita mengenalkan
dan mendidik anak cara Rasulullah saw tentang salat.
1. Setelah anak usia 5 tahun dan telah
memahami arah, maka coba tanyakan mana bagian kanan dan kirinya. Lalu ajarkan
padanya arah kiblat dan mulailah mengajaknya salat.
2. Pada usia tujuh tahun ajaklah ia
untuk membasuh muka dan kedua telapak tangannya dan minta padanya untuk
melakukan salat.
3. Tata cara berwudhu secara penuh
boleh diajarkan pada usia 9 tahun. Kewajiban untuk melakukan salat serta
pemberian hukuman bila meninggalkannya sudah dapat di terapkan pada usia ini.
Karena pada usia ini anak biasanya sudah pandai memahami akan urutan, aturan
dan tata tertib.
Hak anak dalam pendidikan
Berkaitan dengan mendidik
anak cara Rasulullah saw, ada beberapa hal yang harus orang tua
lakukan antara lain
1. Memberikan nama yang baik.
2. Diakikahkan dan dipotong rambutnya
(akan lebih baik dilakukan pada hari ketujuh).
3. Ada hak anak yang tertambat pada
ayahnya yaitu mendapat pengajaran budi pekerti yang luhur, menulis, dan latihan
fisik yang menyehatkan badannya serta diwarisi harta yang halal.
Tentang ibadah-ibadah dan amalan
lainnya
Saat anak mendekati usia baligh, maka
wajib bagi orang tua untuk mmengenalkannya dengan puasa serta mewajibkan salat.
Selain itu juga memerintahkan padanya untuk mencari ilmu, menghafal Al-Qur’an,
dan jika tidak mampu maka perintahkan padanya untuk mencatat.
Subhanallah, betapa indah tuntunan
yang telah diberikan dalam mendidik anak cara Rasulullah saw.
“Adapun hak anakmu adalah, ketahuilah
bahwa ia berasal darimu. Dan segala kebaikan dan keburukannya di dunia,
dinisbatkan kepadamu. Engkau bertanggung jawab untuk mendidiknya, membimbingnya
menuju Allah dan membantunya untuk menaati perintah-Nya.
Maka, perlakukanlah anakmu sebagaimana
perlakuan seseorang yang mengetahui bahwa andaikan ia berbuat baik pada
anaknya, niscaya ia akan mendapatkan pahala dan andaikan ia berbuat buruk
niscaya ia akan memperoleh hukuan.” (Al Khislal, hal.568)
Teladan Nabi Muhammad SAW dalam
Mendidik Anak
1.Rasulullah senang bermain-main (menghibur) dengan anak-anak dan
kadang-kadang beliau memangku mereka. Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan
lain-lain dari putra-putra pamannya Al-Abbas r.a. untuk berbaris lalu berkata,
“ Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).”merekapun
berlomba-lomba menuju beliau, kemudian duduk di pangkuannya lalu Rasulullah
menciumi mereka dan memeluknya.
2. Ketika ja’far bin Abu Tholib r.a, terbunuh dalam peperangan
mut’ah, Nabi Muhammad SAW, sangat sedih. Beliau segera datang ke rumah ja’far
dan menjumpai isterinya Asma bin Umais, yang sedang membuat roti, memandikan
anak-anaknya dan memakaikan bajunya. Beliau berkata, “Suruh kemarilah anak-anak
ja’far. Ketika mereka datang, beliau menciuminya. Sambil meneteskan air mata.
Asma bertanya kepada beliau karena telah mengetahui ada musibah yang
menimpanya.
3. “Wahai rasulullah, apa gerangan yang menyebabkan anda menangis?
Apakah sudah ada berita yang sampai kepada anda mengenai suamiku Ja’far dan
kawan-kawanya?” Beliau menjawab, “Ya benar, mereka hari di timpa musibah.” Air
mata beliau mengalir dengan deras. Asma pun menjerit sehingga orang-orng
perempuan berkumpul mengerumuninya. Kemudian Nabi Muhammad SAW. kembali kepada
keluarganya dan beliau bersabda, “janganlah kalian melupakan keluarga ja’far,
buatlah makanan untuk mereka, kerena sesungguhnya mereka sedang sibuk
menghadapi musibah kematian ja’far.”
4. Ketika Rasulullah melihat anak Zaid menghampirinya, beliau
memegang kedua bahunya kemudian menagis. Sebagian sahabat merasa heran karena
beliau menangisi orang yang mati syahid di peperangan Mut’ah. Lalu Nabi
Muhammad SAW. pun menjelaskan kepada mereka bahwa sesungguhnya ini adalah air
mata seorang kawan yang kehilangan kawannya.
5. Al-Aqraa bin harits melihat Nabi Muhammad SAW. mencium Al-Hasan
r.a. lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi
aku belum pernah mencium mereka.” Rasulullah bersabda, “Aku tidak akan
mengangkat engkau sebagai seorang pemimpin apabila Allah telah mencabut rasa
kasih sayang dari hatimu. Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang,
niscaya dia tidak akan di sayangi.”
6. Seorang anak kecil dibawa kepada Nabi Muhammad SAW. supaya di
doakan dimohonkan berkah dan di beri nama. Anak-anak tersebut di pangku oleh
beliau. Tiba-tiba anak itu kencing, lalu orang-orang yang melihatnya berteriak.
Beliau berkata, “jangan di putuskan anak yang sedang kencing, biarkanlah dia
sampai selesai dahulu kencingnya.”
Beliau pun berdoa dan memberi nama, kemudian
membisiki orang tuanya supaya jangan mempunyai perasaan bahwa beliau tidak
senang terkena air kencing anaknya. Ketika mereka telah pergi, beliau mencuci
sendiri pakaian yang terkena kencing tadi.
7. Ummu Kholid binti kho'id bin sa’ad Al-Amawiyah berkata, “Aku
beserta ayahku menghadap Rasululloh dan aku memakai baju kurung (gamis)
berwarna kuning. Ketika aku bermain-main dengan cincin Nabi Muhammad SAW.
ayahku membentakku, maka beliau berkata, “Biarkanlah dia.” Kemudian beliau pun
berkata kepadaku, “bermainlah sepuas hatimu, Nak!
8. Dari Anas, diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW. selalu bergaul
dengan kami. Beliau berkata kepada saudara lelakiku yang kecil, “Wahai Abu
Umair, mengerjakan apa si nugair (nama burung kecil).”
9. Nabi Muhammad SAW. melakukan shalat, sedangkan Umamah binti
zainab di letakkan di leher beliau. Di kala beliau sujud, Umamah tersebut di
letakkanya dan bila berdiri di letakkan lagi dil leher beliau. Umamah adalah
anak kecil dari Abu Ash bin Rabigh bin Abdusysyam .
10. Riwayat yang lebih masyhur menyebutkan, Rasulullah pernah lama
sekali sujud. dalam shalatnya, maka salah seorang sahabat bertanya,” Wahai
Rasulullah, sesungguhnya anda lama sekali sujud, hingga kami mengira ada
sesuatu kejadian atau anda sedang menerima wahyu. Nabi Muhammad SAW, menjawab,
“Tidak ada apa-apa, tetaplah aku di tunggangi oleh cucuku, maka aku tidak mau
tergesah-gesah sampai dia puas.” Adapun anak yang di maksud ialah Al-Hasan atau
Al-Husain Radhiyallahu Anhuma
11. Ketika Nabi Muhammad SAW. melewati rumah putrinya, yaitu
sayyidah fatimah r.a., beliau mendengar Al-Husain sedang menangis, maka beliau
berkata kepada Fatimah, “Apakah engkau belum mengerti bahwa menangisnya anak
itu menggangguku.” Lalu beliau memangku Al-Husain di atas lehernya dan berkata,
Ya Allah, sesungguhnya aku cinta kepadanya, maka cintailah dia.
Ketika Rasulullah SAW. sedang berada
di atas mimbar, Al-Hasan tergelincir. Lalu beliau turun dari mimbar dan membawa
anak tersebut.
12. Nabi Muhammad SAW. sering bermain-main dngan Zainab binti Ummu
Salamah r.a. beliau memanggilnya, “Hai Zuwainib, hai Zuwainib berulang-rulang.”
13. Nabi Muhammad SAW. sering berkunjung ke rumah para sahabat
Anshar dan memberi salam pada anak-anaknya serta mengusap kepala mereka.
14. Diriwayatkan, pada suatu hari raya Rasulullah SAW. keluar
rumah untuk menunaikan shalat ID. Di tengah jalan, beliau melihat banyak anak
kecil sedang berman dengan gembira sambil tertawa-tawa. Mereka mengenakan baju
baru, sandal mereka pun tampak mengkilap. Tiba-tiba pandangan beliau tertuju
pada salah seorang yang sedang duduk menyendiri dan sedang menangis
tersedu-sedu. Bajunya kompang-kamping dan kakinya tiada bersandal. Rasulullah
SAW, pun mendekatinya , lalu di usap-usap anak itu mendekapya ke dadabeliau
seraya bertanya, “mengapa kau menangis, Nak .” Anak itu hanya menjawab, “biarkanlah
aku sendiri.” Anak itu belum tahu bahwa orang yang ada di hadapannya itu adalah
Rasulullah SAW. yang terkenal sebagai pengasih. “Ayahku mati dalam suatu
pertempuran bersama Nabi,” lanjut anak itu.
“Lalu ibuku kawin lagi. Hartaku habis
di makan suami ibuku, lalu aku di usir dari rumahnya. Sekarang, aku tak
mempunyai baju baru dan makanan yang enak. Aku sedih meihat kawan-kawanku
bermain dengan riangnya itu.”
Baginda Rasulullah SAW. lantas
membimbing anak tersebut seraya menghiburnya, “Sukakah kamu bila aku menjadi
bapakmu, Fatimah menjadi kakakmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai pamanmu,
Hasan dan Husain menjadi saudaramu?” Anak itu segera tahu dengan siapa ia
berbicara. Maka langsung ia berkata, “mengapa aku tak suka, ya Rasulullah?”
kemudian, Rasulullah SAW, pun membawa anak itu ke rumah beliau, dan di berinya
pakaian yang paling indah, memandikannya, dan memberinya perhiasan agar ia
tampak lebih gagah, lalu mengajak makan.
Sesudah itu, anak itu pun keluar
bermain dengan kawan-kawannya yang lain, sambil tertawa-tawa sambil kegirangan.
Melihat perubahan pada anak itu, kawan-kawannya merasa heran lalu bertanya,
“Tadi kamu menagis, mengapa sekarang bergembira?” jawab anak itu, tadi aku
kelaparan, sekarang sudah kenyang. Tadi aku tak mempunyai pakaian, sekarang aku
mempunyainya, tadi aku tak punya bapak, sekarang bapakku Rasulullah dan ibuku
Aisyah.” Anak-anak lain bergumam, Wah, andaikan bapak kita mati dalam perang.”
Hari-hari berikutnya, anak itu tetap di pelihara, oleh Rasulullah SAW. hingga
beliau wafat
Subscribe to:
Posts (Atom)
